News Update :
Home » » Cara Budidaya Pohon Karet

Cara Budidaya Pohon Karet

Penulis : esta rianto on Selasa, 16 April 2013 | 03.49

Pengembangan perkebunan karet memberikan peranan penting bagi perekonomian nasional, yaitu sebagai sumber devisa, sumber bahan baku industri, sumber pendapatan dan kesejahteraan masyarakat serta sebagai pengembangan pusat-pusat pertumbuhan perekonomian di daerah dan sekaligus berperan dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Guna mendukung keberhasilan pengembangan karet, perlu disusun Teknis Budidaya Tanaman Karet digunakan sebagai acuan bagi pihak-pihak yang terkait pengolahan komoditi tersebut.

Di Kabupaten Kuantan Singingi pengembangan karet dilakukan dengan 2 pola yaitu :
1. Peremajaan
Peremajaan adalah upaya pengembangan perkebunan dengan melakukan penggantian tanaman karet yang sudah tidak produktif (tua/rusak) dengan tanaman karet baru secara keseluruhan dan menerapkan inovasi
teknologi.
2. Perluasan
Perluasan adalah upaya pengembangan areal tanaman perkebunan pada wilayah bukaan baru atau pengutuhan areal di sekitar perkebunan yang sudah ada dengan menggunakan inovasi teknologi. Gambar tanaman yang akan diremajakan :

BUDIDAYA TANAMAN

Pelaksanaan kegiatan pembangunan kebun karet mengacu pada teknik budidaya karet dengan tahapan sebagai berikut :
A. Persyaratan Tumbuh
Budidaya tanaman karet memerlukan persyaratan tumbuh sebagai berikut :
a.1. Iklim

      Tinggi tempat 0 sampai 200 m dpl.
      Curah hujan 1.500 sampai 3.000 mm/th.
      Bulan kering kurang dari 3 bulan.
      Kecepatan angin maksimum kurang atau sama dengan 30 km/jam.

a.2. Tanah

    Kemiringan tanah kurang dari 10%.
    Jeluk efektif lebih dari 100 cm.
    Tekstur tanah terdiri lempung berpasir dan liat berpasir.
    Batuan di permukaan maupun di dalam tanah maksimal 15%.
    pH tanah berkisar antara 4,3 – 5,0.
    Drainase tanah sedang. b. Bahan Tanam

b.1 Jenis klon anjuran

    Klon penghasil lateks : BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217, PB 260 Klon penghasil lateks-kayu : BPM 1, PB 330, PB 340, RRIC 100, AVROS 2037, IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, 112, IRR 118
    Klon penghasil kayu : IRR 70, IRR 71, IRR 72, IRR 78
    Klon-klon yang sudah tidak direkomendasi, bukan berarti klon tersebut tidak boleh ditanam, dengan memperhatikan kondisi agroekosistem, sistem pengelolaan yang diterapkan dan luas areal sudah ditanami klon tersebut.

b.2 Batang bawah :
Syarat kebun sumber biji untuk batang bawah yaitu:

      Terdiri dari klon monoklonal anjuran untuk sumber benih.
      Kemurnian klon minimal 95%.
      Umur tanaman 10-25 tahun.
      Pertumbuhan normal dan sehat
      Penyadapan sesuai norma.
      Luas blok minimal 15 ha.
      Topografi relatif datar.

b.3 Sumber benih

    PT London Sumatera Plantation.
    Balai Penelitian Sungei Putih, Pusat Penelitian Karet, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia.
    Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia.
    Balai Penelitian Getas, Pusat Penelitian Karet, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia.

c. Persiapan Lahan

c.1. Pembukaan Lahan Penyiapan lahan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
1. Secara Mekanis

    Pohon karet tua (replanting) atau semak dan atau pohonnon karet (new planting) ditebang dengan menggunakan gergaji (Chain saw), atau didorong menggunakan ekscavator sehingga perakaran ikut terbongkar.
    Pohon yang telah tumbang segera dipotong-potong dengan panjang sesuai dengan ukuran yang dikehendaki.
    Bagian-bagian cabang dan ranting yang masih tertinggal dipotong-potong lebih pendek untuk memudahkan pengumpulan pada jalur yang telah ditetapkan.
    Sambil menunggu pekerjaan memotong ranting yang tersisa, pekerjaan dilanjutkan dengan membongkar tunggul yang masih tersisa di lapang.
    Pembongkaran tunggul dapat dilakukan dengan menggunakan alat berat (buldozer) sehingga sebagian besar tunggul dan akar tanaman karet dapat terangkat.
    Semua tunggul yang telah dibongkar bersama dengan sisa cabang dan ranting dibersihkan dengan cara dirumpuk/dikumpulkan.
    Hasil rumpukan diusahakan agar terkena sinar matahari sebanyak-banyaknya sehingga cepat kering. Jarak antar tumpukan kayu karet diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu pekerjaan pengolahan tanah dan tumpang tindih dengan barisan tanaman.
    Khusus untuk areal peremajaan, tunggul kayu dan seluruh perakaran mutlak harus dibuang dan diangkat untuk mencegah tumbuhnya kembali JAP, minimal tunggul yang berdekatan dengan tanaman baru.
    Pembongkaran atau penebangan habis seluruh tanaman yang tumbuh (land clearing), yang dianjurkan adalah pengolahan lahan tanpa bakar (zero burning).

2. Secara Kimiawi Urutan pekerjaan dalam penyiapan lahan secara kimiawi adalah sebagai berikut :
*). Peracunan tunggul
- Peracunan tunggul dapat dilakukan antara lain dengan 2,4,5-T ataupun garlon.

d. Penanaman
d.1 Persiapan Penanaman Setelah lahan siap ditanami, langkah selanjutnya adalah persiapan tanam dengan tahapan sebagai berikut :
1). Mengajir
- Untuk memperoleh hasil yang optimal, jarak tanam karet yang direkomendasikan adalah 6 m x 3 m atau jumlah populasi sekitar 550 pohon per ha.

d.2 Pembuatan Lubang Tanam
1) Lubang tanam dibuat dengan ukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm dan disiapkan minimal 2 minggu sebelum penanaman.
2) Pembuatan lubang tanam dilakukan dengan meng-gunakan cangkul tanah. Tanah bagian bawah (sub-soil) dipisahkan dengan dengan tanah bagian atas (top-soil). 3) Selanjutnya diberikan pupuk dasar yaitu SP 36 dengan dosis 125 gram/pohon atau sekitar 62,5 kg/ha.

d.3 Penanaman
i). Waktu Penanaman tanaman karet dilakukan pada awal musim penghujan, saat tersebut merupakan awal yang baik/optimal untuk memulai penanaman dan harus berakhir sebelum musim kemarau.
ii). Pelaksanaan Tanam Bibit yang akan ditanam dapat berupa stum mata tidur maupun bibit dengan payung satu. Adapun ketentuan bibit siap tanam adalah sebagai berikut :

    Apabila bahan tanam berupa stum mata tidur, maka mata okulasi harus sudah membengkak/mentis. Hal ini dapat diperoleh dengan cara menunda pencabutan bibit minimal seminggu sejak dilakukan pemotongan batang bawah.
    Sedangkan, jika bahan tanam yang dipakai adalah bibit yang sudah ditumbuhkan dalam polybag, maka bahan yang dipakai maksimum memiliki dua payung daun tua.
    Penanaman dilakukan dengan memasukkan bibit ke tengah-tengah lubang tanam. Untuk bibit stum mata tidur, arah mata okulasi diseragamkan menghadap gawangan pada tanah yang rata, sedangkan pada tanah yang berlereng mata okulai diarahkan bertolak belakang dengan dinding teras, sedangkan bibit dalam polybag arah okulasi menghadap Timur.
    Kemudian bibit ditimbun dengan tanah bagian bawah (sub-soil) dan selanjutnya dengan tanah bagian atas (top-soil). Selanjutnya, tanah dipadatkan secara bertahap sehingga timbunan menjadi padat dan kompak, tidak ada rongga udara dalam lubang tanam.
    Lubang tanam ditimbun sampai penuh, hingga permukaan rata dengan tanah di sekelilingnya. Untuk bibit stum mata tidur kepadatan tanah yang baik, ditandai dengan tidak goyang dan tidak dapat dicabutnya stum yang ditanam, sedangkan bibit dalam polybag pemadatan tanah dilakukan dengan hati-hati mulai dari bagian pinggir ke arah tengah.

d.4 Penyulaman
- Penyulaman dilakukan dengan bahan tanam yang relatif seumur dengan tanaman yang disulam. Hal ini dilakukan dengan selalu menyediakan bahan tanam untuk sulaman dalam polybag sekitar 10% dari populasi tanaman.

e. Pemeliharaan Tanaman

e.1 Pembuangan Tunas Palsu
- Tunas palsu adalah tunas yang tumbuh bukan dari mata okulasi. Tunas ini banyak tumbuh pada bahan tanam stum mata tidur, sedangkan pada bibit stum mini atau bibit polybag, tunas palsu jumlahnya relatif kecil.
- Pemotongan tunas palsu harus dilakukan sebelum tunas berkayu. Hanya satu tunas yang ditinggalkan dan dipelihara yaitu tunas yang tumbuh dari mata okulasi. Pembuangan tunas palsu ini akan mempertahankan kemurnian klon yang ditanam.

e.2 Pembuangan Tunas Cabang

    Tunas cabang adalah tunas yang tumbuh pada batang utama pada ketinggian sampai dengan 2,75 m-3,0 m dari atas tanah.
    Pemotongan tunas cabang dilakukan sebelum tunas berkayu, karena cabang yang telah berkayu selain sukar dipotong, akan merusak batang kalau pemotongannya kurang hati-hati.

e.3 Perangsangan Percabangan

    Percabangan yang seimbang pada tajuk tanaman karet sangat penting, untuk menghindari kerusakan oleh angin.
    Perangsangan percabangan perlu dilakukan pada klon yang sulit membentuk percabangan (GT-1, RRIM-600), sedangkan pada klon yang lain seperti PB-260 dan RRIC- 100, percabangan mudah terbentuk sehingga tidak perlu perangsangan.
    Untuk perangsangan cabang ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu
    pembuangan ujung tunas, penutupan ujung tunas, pengguguran daun, pengikatan batang, dan pengeratan batang.

e.4 Pemupukan
i). Dosis pemupukan
1) Pemupukan pada masa TBM kurang dari 1 tahun
Tanah Kurang Subur
Tanah Subur
3) Pemupukan pada masa TBM (2-5 tahun)
4) Pemupukan pada masa TM
ii) Cara Pemupukan 1) Pemupukan dengan butiran (granular) Adapun Dosis pemupukan sebagai berikut :
 Pemberian Urea ke-1, 2, 3 dan 4 masing-masing setelah tanaman berumur 2, 5, 8 dan 12 bulan di lapangan. Tiap pemberian : seperempat dosis dalam setahun.
 Pemberian Urea ke-1, 2 dan 3 masing-masing setelah tanaman berumur 15,18 dan 24 bulan di lapangan.
 Pemberian pertama dan kedua, termasuk dosis TSP, KCl dan Kieserit pada tahun ke-1, 2 di lapangan, masing-masing pada bulan Pebruari dan Agustus/September.
 Diberikan menjelang daun tumbuh kembali setelah masa gugur daun.
2) Pemupukan dengan tablet

    Kehilangan hara dari pupuk yang terjadi melalui proses pencucian dan erosi dapat dikurangi
    Hara pupuk larut dengan proses lepas lambat (slow release) sehingga secara efektif dan efisien dapat diserap oleh tanaman
    Aplikasi pupuk lebih mudah, menghemat tenaga dan biaya Pupuk tablet dengan formula tertentu digunakan dengan cara membenamkan/ditugal ke dalam tanah sdi sekitar tanaman dengan jumlah sesuai dengan dosis yang diperlukan untuk jangka waktu tertentu (2 tahun). Pemupukan ini dilakukan sesaat setelah tanam dan baru diulangi lagi pada waktu persediaan pupuk dalam tanah sudah habis (tahun ke-3).

e.5 Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
i). Penyakit
1. Jamur Akar Putih (Rigidoporus lignosus)

Gejala Serangan
Serangan jamur menyebabkan akar menjadi busuk dan apabila perakaran dibuka maka pada permukaan akar terdapat semacam benang-benang berwarna putih kekuningan dan pipih menyerupai akar rambut yang menempel kuat dan sulit dilepas.
• Gejala serangan yang tampak adalah daun-daun yang semula tampak hijau segar berubah menjadiberwarna hijau gelap kusam, layu akhirnya kering dan gugur kemudian diikuti kematian tanaman.
• Gejala lanjut akar membusuk, lunak dan berwarna coklat.

Pengendalian

    Menanam tanaman penutup tanah jenis kacangkancangan, minimal satu tahun lebih awal dari penanaman karet.
    Sebelum penanaman, lubang tanam ditaburi biakan jamur Trichoderma harzianum yang dicampur dengan kompos sebanyak 200 gr/lubang tanam (1 kg T. Harzianum dicampur dengan 50 kg kompos/pupuk kandang). Pengendalian pada areal yang sudah terserang JAP:
    Pada serangan ringan masih dapat diselamat-kan dengan cara membuka perakaran, dengan membuat lubang tanam 30 cm disekitar leher akar dengan kedalaman sesuai serangan jamur.
    Permukaan akar yang ditumbuhi jamur dikerok dengan alat yang tidak melukai akar. Bagian akar yang busuk dipotong dan dibakar. Bekas kerokan dan potongan diberi ter dan Izal kemudian seluruh permukaan akar dioles dengan fungisida yang direkomendasikan.
    Setelah luka mengering, seluruh perakaran ditutup kembali dengan tanah.
    Empat tanaman di sekitar tanaman yang sakit ditaburi dengan T. Harzianum dan pupuk.
    Tanaman yang telah diobati diperiksa kembali 6 bulan setelah pengolesan dengan membuka perakaran, apabila masih terdapat benang jamur maka dikerok dan dioles dengan fungisida kembali.
    Pengolesan dan penyiraman akar dengan fungsida dilakukan setiap 6 bulan sampai tanaman sehat.
     Tanaman yang terserang berat atau telah mati/tumbang harus segera dibongkar, bagian pangkal batang dan akarnya dikubur diluar areal pertanaman, menggunakan wadah agar tanah yang terikut tidak tercecer di dalam kebun.
     Bekas lubang dan 4 tanaman di sekitarnya ditaburi 200 gram campuran Trichoderma sp. dengan pupuk kandang 200 gr per lubang atau tanaman.

Pencegahan

    Pada lahan yang sudah terinfeksi dengan JAP, dan akan ditanami karet dibersihkan dari tunggul-tunggul karet. Lubang penanaman diberi belerang100 – 200 gram per lobang.
    Disekitar tanaman muda yang berumur kurang dari 2 tahun ditanami tanaman antagonis antara lain Lidah mertua, Kunyit dan Lengkuas.

2. Penyakit Bidang Sadap
2.1. Mouldy Rot Penyebab Jamur Ceratocystis fimbriata Gejala Serangan

    Mula-mula tampak selaput tipis berwarna putih pada bidang sadap didekat alur sadap. Selaput ini berkembang membentuk lapisan seperti beludru berwarna kelabu sejajar dengan alur sadap.
    Apabila lapisan dikerok, tampak bintik-bintik berwarna coklat kehitaman.
    Serangan bisa meluas sampai ke kambium dan bagian kayu.
    Pada serangan berat bagian yang sakit membusuk berwarna hitam kecokelatan sehingga sangat mengganggu pemulihan kulit.
    Bekas serangan membentuk cekungan berwarna hitam seperti melilit sejajar alur sadap. Bekas bidang sadap bergelombang sehingga menyulitkan penyadapan berikutnya atau tidak bisa lagi di sadap. Pengendalian
    Di daerah yang beriklim basah atau rawan penyakit ini dinajurkan menanam klon resisten yang telah direkomendasikan.
     Pisau sadap diberi desinfektan sebelum digunakan.
     Menurunkan intensitas penyadapan atau menghentikan penyadapan pada serangan berat.
     Hindari torehan yang terlalu dalam pada saat penyadapan agar kulit cepat pulih.
     anaman yang sudah terserang dioles fungisida 5 cm di atas irisan sadap sehari setelah penyadapan dan getah belum dilepas.

Interval pengolesan
1-2 minggu sekali sampai tanaman kembali sehat.
2.2 Kering Alur Sadap (KAS) Penyebab Ketidakseimbangan fisiologis dan penyadapan yang berlebihan.

Gejala Serangan

    Tanaman tampak sehat dan pertumbuhan tajuk lebih baik dibandingkan tanaman normal.
    Tidak keluar latek di sebagian alur sadap. Beberapa minggu kemudian keseluruhan alur sadap ini kering dan tidak me-ngeluarkan lateks.
    Lateks menjadi encer dan Kadar Karet Kering (K3) berkurang.
    Kekeringan menjalar sampai ke kaki gajah baru ke panel sebelahnya.
     Bagian yang kering akan berubah warnanya menjadi cokelat dan kadang-kadang terbentuk gum (blendok).
     Pada gejala lanjut seluruh panel / kulit bidang sadap kering dan pecah-pecah hingga mengelupas. Deteksi penyakit
     Dilakukan sadap tusuk di bawah bidang sadap sampai ke bawah, apabila tidak keluar cairan latek berari sudah terserang KAS. Gejala serangan
    - Segera dilakukan pengendalian bila sebagian alur sadap mengalami kekeringan.
    Perlu waspada apabila lateks mulai encer. Pengendalian
    Menurunkan intensitas penyadapan pada pohon/kebun yang telah mulai menunjuk-kan kekeringan alur sadap.
    Menghindari atau menurunkan intensitas penyadapan pada musim gugur daun.
    Bidang sadap yang mati dan kulit kering dipulihkan kembali dengan pemberian formulasi oleokimia (Antico F-96, No. BB).
    Pemberian oleokimia dengan cara mengerok kulit bidang sadap yang sakit kemudian dioles segera setelah pengerokan selesai.
    Satu tahun kemudian kulit yang baru bisa disadap kembali.
    Melakukan pemupukan yang teratur dan seimbang, kemudian ditambah 160 gram KCl/pohon/tahun.

3. Jamur Upas Penyebab jamur Corticium salmonicolor.

Gejala Serangan

    Stadium sarang laba-laba Pada permukaan kulit bagian pangkal atau atas percabangan tampak benang putih seperti sutera mirip sarang laba-laba.
    Stadium bongkol Adanya bintil-bintil putih pada permukaan jaring labalaba. – Stadium kortisium Jamur membentuk selimut yaitu kumpulan benangbenang jamur berwarna merah muda. Jamur telah masuk ke jaringan kayu.
    Stadium nekator Jamur membentuk lapisan tebal berwarna hitam yang terdiri dari jaringan kulit yang membusuk dan kumpulan tetesan lateks yang berwarna coklat kehitaman meleleh di permukaan bagian terserang. Cabang atau ranting yang terserang akan membusuk dan mati serta mudah patah.

Pengendalian

    - Menanam klon yang tahan seperti BPM 107, PB 260, PB 330, AVROS 2037, PBM 109, IRR 104, PB 217, PB 340, PBM 1, PR 261 dan RRIC 100 IRR 5, IRR 39, IRR 42, IRR 112 dan IRR 118.
    - Jarak tanam diatur tidak terlalu rapat.
    - Cabang/ranting yang telah mati dipotong dan dimusnahkan.
    - Cabang yang masih menunjukkan gejala awal (sarang laba-laba) segera dioles dengan fungisida Bubur Bordo atau fungsida berbahan aktif Tridermorf hingga 30 cm ke atas dan ke bawah bagian yang terserang.
    - Bubur bordo dan fungisida yang mengandung unsur tembaga tidak dianjurkan pada tanaman yang telah disadap, karena dapat merusak mutu lateks.
    - Pada kulit yang mulai membusuk, harus dikupas sampai bagian kulit sehat kemudian dioles fungisida hingga 30 cm ke atas dan ke bawah dari bagian yang sakit.
    ii). Hama
    1. Babi hutan (Sus barbatus, Sus scrofa vittatus)
    Gejala Serangan
    - Tanaman muda tiba-tiba tumbang.
    - Perakaran rusak, daun menjadi layu dan kuning.

Pengendalian

    Sanitasi lingkungan, memasang jaring, perangkap.
    Memberi pagar di sekitar areal kebun
    Membuat parit di sekitar areal kebun
    Berburu bersama dengan kelompok pemburu babi misalnya dengan Perbakin.

- Pemberian umpan beracun, namun perlu hati-hati jangan sampai racun tersentuh tangan.

iii). Gulma

Jenis gulma yang dominan pada perkebunan karet, antara lain : Adapun cara pengendalian sebagai berikut :

a. Pengendalian Mekanis
Cara mekanis dilakukan dengan menggunakan cangkul, kored atau parang.

b. Pengendalian Kimia
Cara kimia dilaksanakan dengan menyemprotkan herbisida, sehingga dalam pelaksanannya dapat cepat, sedikit menggunakan tenaga kerja serta tidak merusak tanaman dan sifat fisik tanah. Selain itu, gulma yang telah mati dan membusuk dapat menambah unsur hara dalam tanah.

Jenis
Ada 3 jenis herbisida yang digunakan untuk mengendalikan gulma yaitu pra-tumbuh, sistemik dan non-sistemik/kontak.

Dosis Dosis herbisida untuk pengendalian gulma sebagai berikut :

Tabel 8. Dosis Herbisida
III. PANEN a. Menentukan Matang Sadap
a.1 Matang Sadap Pohon
Kriteria :
- Umur tanaman
Tanaman karet siap disadap pada umur sekitar 5 – 6 tahun.
- Pengukuran lilit batang
Pohon karet dinyatakan matang sadap apabila lilit batang sudah mencapai 45 cm atau lebih. Lilit batang diukur pada ketinggian batang 100 cm dari pertautan okulasi untu tanaman okulasi.

b. Persiapan Buka Sadap

b.1 Penggambaran Bidang Sadap

    Tinggi bukan sadap Tanaman karet okulasi mempunyai lilit batang bawah dengan bagian atas yang relatif sama (silinder), demikian juga dengan tebal kulitnya. Tinggi bukaan sadap pada tanaman okulasi adalah 130 cm di atas pertautan okulasi. Ketinggian ini berbeda dengan ketinggian pengukuran lilit batang untuk penentuan matang sadap.
    Arah dan sudut kemiringan irisan sadap Arah irisan sadap harus dari kiri atas ke kanan bawah, tegak lurus terhadap pembuluh lateks. Sudut kemiringan irisan yang paling baik berkisar antara 300 – 400 terhadap bidang datar untuk bidang sadap bawah. Pada penyadapan bidang sadap atas, sudut kemiringannya dianjurkan sebesar 450.
    Panjang irisan sadap Panjang irisan sadap adalah 1/2s (irisan miring sepanjang ½ spiral atau lingkaran batang).
    Letak bidang sadap Bidang sadap harus diletakkan pada arah yang sama dengan arah pergerakan penyadap waktu menyadap.

b.2 Pemasangan Talang dan Mangkuk Sadap Talang sadap terbuat dari seng selebar 2,5 cm dengan panjang sekitar 8 cm. Talang sadap dipasang pada jarak 5 cm – 10 cm dari ujung irisan sadap bagian bawah. Mangkuk sadap umumnya terbuat dari plastik, tanah liat atau aluminium. Mangkuk sadap dipasang pada jarak 5-20 cm di bawah talang sadap. Mangkuk sadap diletakkan di atas cincin mangkuk yang diikat dengan tali cincin pada pohon.

c. Pelaksanaan penyadapan
c.1 Kedalaman irisan sadap Penyadapan diharapkan dapat dilakukan selama 25 – 30 tahun. Kedalaman irisan sadap dianjurkan berkisar 1-1,5 mm dari kambium.

c.2 Ketebalan irisan sadap Ketebalan irisan sadap yang dianjurkan adalah berkisar antara 1,5 mm – 2 mmsetiap penyadapan, agar penyadapan dapat dilakukan selama kurang lebih 25 – 30 tahun.

c.3 Frekuensi penyadapan Frekuensi penyadapan adalah jumlah penyadapan dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Dengan panjang irisan ½ spiral (1/2 s), frekuensi penyadapan adalah 1 kali dalam 3 hari (3/d) untuk 2 tahun pertama penyadapan, dan kemudian diubah menjadi 1 kali dalam 2 hari (d/2) untuk tahun selanjutnya.

c.4 Waktu penyadapan Penyadapan sebaiknya dilakukan sepagi mungkin yaitu antara jam 05.00 – 07.30 pagi.

IV. PENANGANAN PASCA PANEN

Untuk memperoleh bahan olah karet yang bermutu baik beberapa persyaratan teknis yang harus diikuti yaitu :
• Tidak ditambahkan bahan-bahan non karet.
• Dibekukan dengan asam semut dengan dosis yang tepat.
• Segera digiling dalam keadaan segar.
• Disimpan di tempat yang teduh dan terlindung dan tidak direndam. Jenis bahan olah karet (bokar) yang dapat diproduksi yaitu :
a. Lateks
Pekat Lateks pekat adalah lateks kebun yang dipekatkan dengan cara sentrifus atau didadihkan dari KKK 28% – 30% menjadi KKK 60% – 64%. Peralatan yang diperlukan adalah tangki dadih dari plastik, pengaduk kayu, dan saringan lateks 60 mesh. Bahan-bahan yang diperlukan berupa bahan pendadih yaitu campuran amonium alginat dan karboksi metil selulose, bahan pemantap berupa amonium laurat dan pengawet berupa gas atau larutan amoniak. Pengolahan lateks pekat melalui beberapa tahap yaitu penerimaan dan penyaringan lateks kebun, pembuatan larutan pendadih, pendadihan dan pemanenan.

b. Lump Mangkok
Lump mangkok adalah lateks kebun yang dibiarkan menggumpal secara alamiah dalam mangkok. Pada musim penghujan untuk mempercepat proses penggumpalan lateks dapat digunakan asam semut yang ditambahkan ke dalam mangkok.

c. Slab Tipis / Giling Slab tipis dibuat dari lateks atau campuran lateks dengan lump mangkok yang dibekukan dengan asam semut di dalam bak pembeku yang berukuran 60 x 40 x 6 cm, tanpa perlakuan penggilingan. Proses pembuatan slab tipis dapat diuraikan sebagai berikut :

c.1 Masukkan dan susun lump mangkok secara merata di dalam bak pembeku. c.2 Tambahkan larutan asam semut 1% ke dalam lateks kebun, dengan dosis 110 ml per liter lateks, kemudian diaduk.

c.3 Tuangkan campuran tersebut ke dalam bak pembeku yang telah diisi lump mangkok.
c.4 Biarkan sekitar 2 jam, lalu gumpalan diangkat dan disimpan di atas rak dalam tempat yang teduh. Untuk meningkatkan kadar karet kering menjadi sekitar 70%, slab tipis dapat digiling dengan menggunakan handmangle dan hasilnya disebut dengan slab giling. Slab tipis dapat diolah menjadi blanket melalui penggilingan dengan mesin creper. Proses penggilingan dilakukan sebanyak 4-6 kali sambil disemprot dengan air bersih untuk menghilangkan kotoran yang terdapat di dalam slab. Hasil blanket mempunyai ketebalan sekitar 0,6 cm – 1 cm, dengan KKK sekitar 75%.

d. Sit Angin Sit angin adalah lembaran karet hasil penggumpalan lateks yang digiling dan dikeringanginkan sehingga memiliki KKK 90% – 95%. Pengolahan sit angin dilakukan melalaui berbagai tahap yaitu penerimaan dan penyaringan lateks, pengenceran, penggumpalan, pemeraman, penggilingan, pencucian, penirisan dan pengeringan.

e. Sit Asap (Ribbed Smoked Sheet/RSS) Proses pengolahan sit asap hampir sama dengan sit angina. Bedanya terletak pada proses pengeringan, dimana pada sit asap dilakukan pengasapan pada suhu yang bertahap antara 40o-60o C selama 4 hari, dengan pengaturan sebagai berikut :

e.1 Hari pertama, suhu 40o-45o C, ventilasi ruang asap lebar.

e.2 Hari kedua, suhu 40o-50o C, ventilasi ruang asap sedang.

e.3 Hari ketiga, suhu 50o-55o C, ventilasi ruang asap tertutup. e.4 Hari keempat, suhu 55o-60o C.
Beritahu Teman Anda Atau Cetak :

Poskan Komentar

ikuti kami disini

Untuk Berlangganan Kami